Dalam sejarah peradaban kuno dunia, Bangsa Maya bagaikan
bangsa yang diturunkan dari langit, mengalami zaman yang cemerlang,
kemudian lenyap secara misterius. Suku bangsa Maya,
merupakan salah satu suku paling terkenal sekaligus misterius di dunia.
Mereka terkenal karena memiliki kebudayaan tinggi dan mewariskan
bangunan-bangunan megah seperti house of the dove (rumah merpati) di
kawasan mesoamerika. Suku ini juga dianggap misterius, karena hilang
begitu saja dari panggung sejarah.
Suku Maya adalah kelompok suku yang tinggal di semenanjung
Yucatan, Amerika Tengah yang berbatasan dengan Samudera Pasifik di
sebelah barat, dan Laut Karibia di sebelah timur. Beksi super seksi
Suku yang pada zaman batu mencapai kejayaan di bidang teknologinya (250
M hingga 925 M), menghasilkan bentuk karya dan peradaban unik seperti
bangunan (Chichen Itza), pertanian (kanal drainase), tanaman jagung dan
latex, sumurnya yang disebut “cenotes“.
Peradaban dan udaya bangsa Maya yang misterius ini tinggal di
wilayah selatan Mexico sekarang (Yucatan) Guetemala, bagian utara
Belize dan bagian barat Honduras. Banyak sekali pyramid, kuil dan
bangunan-bangunan kuno yang dibangun oleh Maya yang masih dapat ditemui
di sana. Banyak juga batu-batu pahatan dan tulisan-tulisan misterius
pada meja-meja yang ditinggalkan mereka. Para arkeolog percaya bahwa
Maya mempunyai peradaban yang luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari
peninggalannya seperti buku-bukunya, meja-meja batu dan cerita-cerita
yang bersifat mistik. Tetapi sayang sekali buku-buku mereka di
perpustakaan Mayan semuanya sudah dibakar oleh tentara Spanyol ketika
menyerang sesudah tahun 1517. Hanya beberapa tulisan pada meja-meja dan
beberapa system kalender yang membingungkan tersisa sampai sekarang
Suku bangsa maya dahulu dikenal menguasai pengetahuan astronomi yang
khusus dan mendalam, sistem penanggalan yang sempurna, perhitungan
perbintangan yang rumit serta metode pemikiran abstrak yang tinggi.
Kesempurnaan dan akurasi dari pada penanggalannya membuat banyak para
ahli takjub
Lembaran budaya cemerlang yang ditulis bangsa Maya untuk sejarah
manusia. Arkeolog menganggap, kebudayaan bangsa Maya semestinya secara
perlahan-lahan terbentuk sejak tahun 2000 SM hingga masa tahun 250 M,
setelah tahun 250 M hingga masa tahun 900 M, budaya tersebut memasuki
masa keemasan, dan pada abad ke-7 dan 8, memasuki masa yang sangat
makmur dan sejahtera.
Tulisan paling dini bangsa Maya muncul menjelang dan sekitar Masehi,
namun batu prasasti pertama yang tergali memperlihatkan catatan yang
menulis tahun 292 M. Sejak itu, tulisan bangsa Maya hanya tersebar pada
areal terbatas. Dan pada tarikh Masehi setelah pertengahan abad ke-5,
tulisan bangsa Maya baru secara menyeluruh tersebar ke semua kawasan
Maya. Misalnya batu prasasti terakhir diselesaikan pada 869 M, dan batu
prasasti terakhir di seluruh kawasan Maya diselesaikan pada 909 M.
Cara mereka berkomunikasi dan mendokumentasikan tulisan: Tulisannya menggunakan gambar dan simbol, yang disebut “
hieroglyph“.
Ada dua macam hieroglif: yakni yang menampilkan gambar utuh dari benda
yang dimaksudkan, dan tipe yang menggambarkan sesuatu sesuai dengan
suku katanya. Misalnya kata “balam: jaguar”, digambarkan dengan kepala
binatang tersebut, atau dengan tiga suku kata “ba”-”la”-”ma” yang
terdiri dari tiga gambar sejenis mangkok/tempurung.
Suku ini juga mengenal kecantikan seseorang, dengan membuat
tempurung kepalanya menjadi rata, dengan cara mengikatkan papan di dahi
dan tempurung belakang pada bayi/kelahiran anak, sehingga pada waktu
dewasa mereka merasa anggun dengan memiliki tulang dahi yang rata.
Adapun senjata yang digunakan adalah disebut “
Atlatl” , yakni semacam busur dan panahnya. Makanan utama mereka adalah:
Tortilla.
Peradaban Maya
Peradaban Maya adalah sebuah peradaban yang muncul di Mesoamerika,
terkenal akan skrip tertulisnya yang berasal dari masa Pra-Columbus,
juga terkenal akan kebudayaannya yang spektakuler, arsitektur, serta
sistem matematika dan astronominya yang unik. Peradaban Maya bermula
pada periode Pra-klasik, yang berkembang pada Periode Klasik (sekitar
250 M sampai 900 M), dan berlanjut sampai periode Pos-Klasik sampai
kedatangan bangsa Spanyol di Yucatan. Pada zaman keemasannya, negeri
Maya adalah salah satu negeri terpadat dan berbudaya paling dinamis di
dunia.
Peradaban Maya memiliki banyak kesamaan dengan peradaban Mesoamerika
yang lain disebabkan tingginya interaksi dan difusi budaya yang terjadi
pada wilayah tersebut. Produk budaya seperti tulisan, epigrafi, dan
kalender tidak sendirinya dihasilkan Maya; namun kebudayaan mereka
sungguh tinggi. Pengaruh Maya dapat ditemukan sejauh Mexico Tengah,
lebih dari 1000 kilometer dari pusat negeri Maya. Peradaban di luar
Maya juga memengaruhi peradaban Maya, dimana ditemukan di seni
tradisional Maya dan arsitekturnya. Pengaruh ini didapat dari hasil
pertukaran budaya serta perdagangan tanpa adanya penundukan eksternal.
Bangsa Maya tidak punah, baik dari zaman setelah berakhirnya Periode Klasik ataupun dengan kedatangan penjelajah bangsa Spanyol
conquistadores
dan kolonisasi Spanyol yang berturut-turut. Saat ini, Maya dan
keturunannya membentuk populasi yang masih mempertahankan tradisi dan
kepercayaan, dengan hasil akulturasi dan ideologi Katolik Roma yang
diadaptasi sejak zaman pra-Columbus dan masa pos-pendudukan. Bahasa
Maya tetap menjadi bahasa utama mereka saat ini. Salah satu bentuk
budaya mereka, Rabinal Achí, yaitu sebuah drama tradisional, dimasukkan
ke dalam daftar Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia
oleh UNESCO di tahun 2005.
Kalender Maya
Kalender Bangsa Maya hingga saat ini disebutkan adalah kalender yang
paling akurat yang pernah ada di bumi. Sudah banyak kejadian dan
fenomena mereka kumpukan dan diterangkan dalam sebuah simbol-simbol dan
karakter untuk meramal kehidupan budaya dan akhir jaman. Salah satunya
perhitungan kalender menyebutkan bahwa tepatnya tanggal 21 Desember
2012, merupakan “End of Times”. Maksud kata ini masih banyak
diperdebatkan oleh para ilmuwan dan arkeolog namun makna tersebut salah
satunya dimaknai sebagai berakhirnya kehidupan manusia di bumi.
Kalender suci bangsa Maya atau Tzolkin adalah pintu memasuki
pemikiran suatu peradaban sangat maju di dunia Barat sebelum kedatangan
bangsa-bangsa Eropa. Para ahli meyakini, astronomi Maya Kuno adalah
pencapaian intelektual yang menakjubkan, setara dengan geometri Mesir
Kuno dan filosofi Yunani. Banyak orang percaya, kalender berusia 2.000
tahun itu lebih akurat dibandingkan kalender Gregorian yang digunakan
sejak tahun 1582.
Bangsa Maya Kuno hidup pada awal milenium pertama sesudah Masehi di
wilayah Mesoamerika, yang membentang dari Meksiko Utara ke Honduras, di
utara Semenanjung Yucatan. Penduduknya berjumlah 5 juta sampai 14 juta
orang, bermukim di kota-kota yang kini dikenal sebagai Meksiko Selatan,
Guatemala, dan Belize.

Dalam
The Mayan Calendar and the Transformation of Consciousness (2004),
Carl Johan Calleman PhD menulis, selain kebudayaan yang tinggi di
bidang seni dan arsitektur yang ditemukan di kawasan-kawasan piramida,
seperti Palenque, Tikal, Copán, dan Chitchén Itzá, bangsa Maya Kuno
sangat dikenal kemampuannya dalam ilmu astronomi dan matematika. Bangsa
inilah yang pertama menggunakan angka nol (0).
Bangsa Maya Kuno terobsesi pada waktu. Menurut Lawrence E Joseph dalam
Apocalypse 2012
(2007), mereka menciptakan sedikitnya 20 kalender, disesuaikan dengan
berbagai siklus, mulai dari kehamilan hingga panen, bulan hingga Venus.
Penghitungan orbitnya sangat akurat dengan selisih hanya satu hari
setiap 1.000 tahun
Kisah Penemuan
Bangsa Spanyol masuk ke Amerika Selatan pada abad ke-16, dengan
status agresor mereka menjajah daratan yang asli ini. Penduduk Amerika
Tengah dan Selatan ketika itu hidup sebagai petani yang primitif,
mereka sama sekali tidak berdaya menghadapi kapal dan meriam kuat
bangsa Spanyol. Dan dengan cepat, bangsa Spanyol menyebarkan agama
mereka ke tempat tersebut, dua orang misionaris yang melihat
kepercayaan takhayul dan ilmu sihir penduduk setempat, segera membakar
tempat tersebut, mengakibatkan buku kuno yang disembunyikan semuanya
terbakar musnah.
Tidak disangka bahwa buku-buku tersebut adalah buku kuno yang
mencatat pusaka pengetahuan peninggalan kebudayaan bangsa Maya yang
telah lama menghilang, di dalamnya tercatat secara terperinci tingkat
ilmu pengetahuan dan budaya mereka yang mahatinggi pada masa itu.
Mungkin demikianlah takdirnya, kini para ilmuwan yang menyelidiki
kebudayaan Maya hanya bisa menggambarkan kehebatan budaya Maya saat itu
secara tambal sulam berdasarkan potongan naskah yang berhasil
dikumpulkan.
Bebatuan Raksasa di Hutan
Piramida bangsa Maya dapat dikatakan merupakan bangunan piramida
kedua yang terkenal setelah piramida di Mesir. Kedua jenis bangunan
piramida ini terlihat tidak begitu sama, warna piramida Mesir adalah
kuning keemasan, sebuah piramida bersudut empat yang berbentuk kerucut,
agak terkikis setelah berabad-abad tertiup angin dan diterpa hujan.
Piramida Maya lebih rendah sedikit, disusun dari bebatuan raksasa yang
berwarna abu-abu dan putih, tidak semuanya berbentuk kerucut, di
puncaknya ada sebuah balairung untuk memuja dewa. Di sekeliling
piramida Maya masing-masing memiliki 4 tangga, setiap tangga memiliki
91 undakan, secara total 4 buah tangga ditambah satu undakan bagian
paling atas adalah berjumlah 365 undakan (91 x 4 + 1 = 365), tepat
merupakan jumlah hari dalam satu tahun.

Bangsa Maya sangat memperhatikan ilmu perbintangan, baik di dalam
maupun di luar bangunan semuanya adalah angka yang berhubungan dengan
hukum peredaran benda langit. Selain jumlah undakan tangga, pada 4
bagian piramida masing-masing terdapat 52 buah relief 4 sudut,
menandakan satu abad bangsa Maya adalah 52 tahun.
Observatorium astronomi bangsa Maya juga memiliki bentuk bangunan
yang sangat spesifik. Dilihat dari sudut pandang masa kini, secara
fungsional maupun bentuk luar observatorium bangsa Maya sangat mirip
dengan observatorium masa kini, sebagai contoh misalnya menara pengamat
observatorium Kainuoka, di atas teras yang indah dan sangat besar pada
menara tersebut, terdapat undakan kecil bertingkat-tingkat yang menuju
ke teras. Ada beberapa kemiripan dengan observatorium sekarang, juga
merupakan sebuah bangunan tingkat rendah yang berbentuk tabung bundar,
pada bagian atas terdapat sebuah kubah yang berbentuk setengah bola,
kubah ini dalam rancangan observatorium sekarang adalah tempat untuk
menjulurkan teropong astronomi. Empat buah pintu di lantai yang rendah
tepat mengarah pada 4 posisi. Jendela di tempat itu membentuk 6 jalur
hubungan dengan serambi muka, paling sedikit tiga di antaranya
berhubungan dengan astronomi. Salah satunya berhubungan dengan musim
semi (musim gugur), sedangkan dua lainnya berhubungan dengan aktivitas
bulan.
Menara pengamat observatorium Kainuoka ini adalah peninggalan
terbesar dalam sejarah, peninggalan sejarah yang lain juga memiliki
bangunan yang serupa. Semuanya dalam posisi yang saling merapat dengan
matahari dan bulan. Belakangan ini arkeolog beranggapan bahwa astronom
bangsa Maya pada zaman purbakala telah membangun jaringan pengamat
astronomi pada setiap wilayahnya.
Dinilai pada masa kini, bangunan tersebut cukup menakjubkan.
Piramida Maya misalnya, bagaimanakah caranya memotong bebatuan
berukuran sangat besar, diangkut ke tempat yang jauh dalam hutan
belantara, bebatuan yang beratnya puluhan ton, ditumpuk hingga mencapai
tinggi 70 meter, jika tidak ditunjang dengan alat angkut dan peralatan
yang memadai, adalah sangat sulit untuk menyelesaikan pekerjaan
tersebut. Dan suku bangsa yang hidup dalam hutan belantara, mengapa
harus mengerahkan upaya dan tenaga sedemikian besar, membangun sebuah
jaringan pengamat observatorium? Ditilik dari sejarah, teleskop baru
ditemukan pada abad ke-16 oleh Galileo, setelah itu barulah muncul
observatorium ukuran besar, dan konsep jaringan pengamat observatorium
baru muncul pada zaman modern. Kala itu konsep yang demikian dapatlah
dikatakan sangat maju dan canggih.
Hilang Secara Misterius
Hingga kini, para arkeolog terus berusaha menyingkap misteri bangsa
ini. Berkat kegigihan, sepertinya misteri hilangnya suku ini mulai
terungkap.
Menurut para peneliti dari Marshall Space Flight Center di Huntsville,
Alabama, AS, seperti dikutip dari livescience, suku ini mungkin punah
karena perubahan iklim. Kesimpulan ini didapat setelah mereka mengamati
wilayah Amerika Tengah via satelit. Program satelit yang mengamati
kawasan itu dikenal sebagai SERVIR. Diluncurkan awal tahun 2005.
Mulanya, satelit ini digunakan untuk menolong pemerintah menghalau
kebakaran hutan, meningkatkan potensi lahan dan membantu memperbaiki
kerusakan lingkungan. Kenyataannya, program satelit ini bukan cuma
membantu dalam hal-hal tersebut saja, tapi juga menemukan jejak-jejak
kuno Suku Maya. Jejak ini berkemungkinan besar wilayah pertanian masa
lalu yang rusak berat.
Servir memberi informasi, bahwa perubahan iklim mungkin merusak
ekosistem dan keanekaragaman hayati yang dimiliki lingkungan Suku Maya.
Sebelumnya, ada banyak dugaan mengenai penyebab hilangnya Suku Maya.
Ada yang bilang disbabkan oleh badai topan, kelebihan penduduk, wabah
penyakit hingga pemberontakan petani. Namun, Arkeolog Nasa
satu-satunya, Sever, menyebut bahwa kepunahan itu mungkin disebabkan
oleh perubahan iklim. Suku Maya mungkin saja mengeksploitasi lahan
subur yang disebut bajos dan tergantung pada lahan ini. Buktinya, citra
satelit memperlihatkan adanya demaga kuno, kanal-kanal pengairan dan
ladang-ladang pertanian. Ketika musim kering yang panjang melanda
akibat perubahan iklim, lahan pertanian subur ini menjadi kerontang dan
tak menghasilkan. Ini membawa kemunduran besar bagi Suku Maya sampai
akhirnya mereka hilang dari sejarah.
Jared Diamond secara metodologis menjelaskan, penyebabnya adalah
hancurnya daya dukung lingkungan karena bertani dan membabat hutan
secara berlebihan, serta pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi.
Pandangan itu dikonfirmasi penelitian Badan Penerbangan dan Antariksa
Amerika Serikat (NASA) yang menemukan serbuk sari terperangkap dalam
sedimen berusia 1.200 tahun—menjelang keruntuhan peradaban Maya—di
sekitar wilayah Tikal. Itu pertanda deforestasi masif; pepohonan
lenyap, tinggal rumput.
Penyebab lain adalah perang terus-menerus memperebutkan kekuasaan
dan sumber daya alam. Kurang dari satu abad, jumlah penduduk berkurang
80-90 persen. Menurut Diamond, perhatian para pemimpin saat itu
tampaknya berpusat pada masalah jangka pendek. Mereka serakah, gila
kuasa, dan menindas.
Reruntuhan kota-kota mereka, menurut Jared Diamond dalam
Collapse: How Societies Choose to Fail or Survive (2005),
baru ditemukan tahun 1839 oleh ahli hukum dari Amerika Serikat, John
Stephens, bersama juru gambar asal Inggris, Frederick Catherwood.
Eksplorasi itu menemukan 44 kota dan tempat.
Menurut data penelitian: “Suatu hari di tahun 909 M, tanpa sebab
yang jelas, 80% bangsa kuno Maya tiba-tiba saja menghilang, tidak hanya
meninggalkan kuil yang belum selesai dibangun, bahkan sejumlah besar
balairung dewa dan bangunan model raksasa semuanya ditinggalkan begitu
saja, terbenam dalam reruntuhan tembok yang roboh. Semua pusat pemujaan
juga terhenti aktivitasnya. Kemudian, sejak hari itu, kebijaksanaan
leluhur lenyap dengan sangat cepat, dan bangsa Maya yang tertinggal pun
mulai berubah menjadi buta pengetahuan dan merosot moralnya.”
Dari bukti penelitian ilmuwan ini, kita dapat memberikan penjelasan
yang rasional: Setelah mengalami perkembangan budaya yang tinggi,
dikarenakan perkembangan budaya materi, kehidupan bangsa Maya kuno
lambat laun merosot, menuju kemerosotan moral masyarakat. Lalu sebagian
yang masih disebut kebijaksanaan leluhur itu, pada kenyataannya adalah
sekelompok orang yang telah jatuh merosot moralnya, mereka mendorong
perkembangan hal yang tidak baik, membuat segenap masyarakat bangsa
Maya kuno mengarah menuju kepunahan
Meskipun terdapat sejumlah dokumen yang tersisa, namun sangat sulit
bagi kita untuk memastikan peristiwa mengerikan apa yang sebenarnya
terjadi pada tahun 909 M itu, berbagai macam versi hipotesa tentang
kepunahan bangsa Maya, misalnya banjir, gempa bumi, angin topan,
bencana maupun pendapat lainnya tentang wabah, keracunan massal,
penyakit menular, bahkan dikatakan populasi yang membengkak, pembakaran
hutan secara berulang kali untuk bercocok tanam yang mengakibatkan
tanah gersang, ataupun bencana ekonomi, bahkan dikatakan invasi musuh,
perang antarkota, pemberontakan kaum petani maupun masalah sosial
seperti bunuh diri massal, dan pendapat lain yang tak terhitung
jumlahnya.
Memburu Makam Pemimpin Maya
Sebuah kamera kecil yang dikendalikan dari jarak jauh berhasil
menembus makam seorang pemimpin suku Maya kuno. Kubur itu sudah
terpendam selama 1.500 tahun. Kamera itu berhasil memotret berbagai
peninggalan di dalam makam. Di antaranya lukisan dinding, tembikar, dan
kain kafan yang dilengkapi perhiasan batu permata hijau dan mutiara.
Makam itu pertama kali ditemukan pada 1999 di dalam sebuah piramida di
antara reruntuhan kota Maya Palenque. Lokasi ini ada di bukit di
selatan kota Chiapas, Meksiko. Tapi sampai sekarang Arkeolog belum bisa
mengakses ke dalamnya.
Para ahli percaya, makam itu adalah milik seorang penguasa Maya yang
hidup antara tahun 431 dan 550 Masehi. . Para peneliti telah
berusaha mengirimkan kamera ke kedalaman 16 kaki melalui sebuah lubang
kecil di puncak piramida, peneliti akhirnya berhasil mengungkapkan apa
yang ada di dalam makam untuk pertama kalinya. Karakteristik situs
pemakaman menunjukkan bahwa tulang belulangnya kemungkinan milik
seorang penguasa suci dari Palenque, kemungkinan adalah satu dari
pendiri dinasti. Dinding makam dilukis dengan lukisan yang kaya dengan
gambar orang-orang Maya berwarna merah. Suku Maya mencapai masa
keemasannya antara tahun 250-900 Masehi.
sumber : wikipedia dan berbagai sumber lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar